Loading...
HeadlinePenelitian

Bedah Kandidat Gubernur Aceh

Pemilukada sedang berjalan. Tinggal beberapa bulan pencoblosan dilakukan. Beranjak dari kondisi itu dibutuhkan sosialisasi siapa sosok dari kandidat gubernur. Tulisan ini dibuat trilogi guna memberikan informasi tentang calon gubernur kepada masyarakat Aceh. Trilogi terdiri dari tiga (3) tulisan tentang calon gubernur yang sudah mendaftar ke Komisi Perorangan Pemilihan. Tujuan saya agar masyakat Aceh tidak salah pilih. Di ibaratkan membeli kuncing dalam karung. Agar tidak terjadi harus diberikan pendidikan politik. ini juga merupakan tanggung jawab saya seorang akademisi serta peminat masalah politik dan keamanan.

Pola penulisan mengarah pada komperatif. Membandingkan Muhammad Nazar dengan Irwandi Yusuf, karena keduanya menjadi kandidat Gubernur Aceh mendatang. kemudian menilai kinerja selama kepemimpinan duet Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar sebelum kedua pecah kongsi maju ke Pemilukada 2011-2016. Hasil penilaian kandidat gubernur ini saya serahkan kepada pembaca. Isi tulisan memfokuskan gerak politik para kandidat. Tidak luput tulisan ini menganalisis peluang serta pemetaan kekuatan Nazar. Saya akan menduduki dengan cara berpikir rasionalitas. Tentunya logika politik yang bisa diterima rasio kita berdasarkan amatan, diskusi, serta media massa.

Muhammad Nazar
Untuk pertama saya menjelaskan calon gubernur Muhammad Nazar. Saat ini Muhammad Nazar di dukung Partai Demokrat, PPP, dan SIRA. Saya memulai membaca gerakan politik Nazar pada saat mendukung advokasi calon perorangan. Gerakan awal ini desain strategi dalam menggoalkan Nazar menjadi Gubernur Aceh berikutnya. Selanjutnya membentuk beberapa lembaga swadaya masyarakat gerakan tujuan memperkuat gerakan politik Nazar. Tidak sampai di situ saja Nazar menggarap organisasi berbasiskan mahasiswa serta melakukan kunjungan keberbagai dayah-dayah di seluruh Aceh.
Bahkan Nazar melakukan sosialisasi dirinya dengan mendukung kegiatan yang sifatnya mendatangkan massa dengan jumlah besar. dari hasil pantuan saya ada 2 kegiatan besar pertama Gayo Art Summit untuk empat (4) kabupaten kota terdiri dari Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Gayo Luwes. Kedua kegiatan bernuansa Maulid Nabi Muhammad untuk 6 (enam) kabupaten/kota terdiri Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Singkil, dan Subulussalam. Di tambah lagi memilih wakilnya dari wilayah barat Nova Iriansyah.

Kalau membaca dukungan Nazar ke kegiatan tersebut. Saya membacanya bagian dari upaya meraih simpatik dan dukungan dari masyarakat Aceh untuk wilayah tengah. Nazar pasti berpikir”saya harus meraih dukung di wilayah tengah”. Bagaimana untuk wilayah pesisir dan barat daya melalui kunjungan ke dayah yang sudah saya katakan sebelumnya.

Kemudian langkah berikutnya Nazar mencari jabatan diluar jabatan politiknya sebagai Wakil Gubernur Aceh. Selama menjadi Wakil Gubernur dirinya menjabat Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Aceh Muhammad Nazar, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Aceh, Muhammad Nazar, Ketua Dunia Melayu Dunia Islam Malaysia berkedudukan di Malaysia. Selain itu menjadi pembina di lembaga yang bergerak di AIDS.

Seluruh upaya Nazar membuahkan hasil elektabilitasnya meningkat. Angin surga pun datang dari partai politik nasional, dimana mendapatkan pinangan berbalut meminta dari Demokrat dan PPP. Walaupun gebrakan muncul di detik-detik pendaftaran. Besar kemungkinan maharnya terkumpul pada malam hari menjelang penutupan. Di terimanya Nazar oleh dua partai nasional tersebut, bagian dari kerberhasilan lobi kuat dari tim suksesnya menyakinkan partai maupun di pusat.

Lalu bagaimana kekuatan dan kelemahan politik Nazar. Kalau dibedahkan lagi kekuatan dan kelemahan terbagi menjadi dua (2). Pertama di tinjau dari sudut pandang personal dan kedua di tinjau dari kendaraan politik serta tim suksesnya. Baiklah, bila di tinjau dari sudut pandang pertama, saya menilai Nazar lebih lihai berkomunikasi. Politik mengayun menjadi ciri khasnya, sehingga tidak langsung to the point. Oleh karena itulah Nazar sering berpergian ke Jakarta membangun komunikasi mulai dari kementerian maupun petinggi lainnya. Di sisi lain bisa menjaga hubungan dan memeliharanya di eksternal (siapa saja).

Kelemahan secara personal Nazar kurang bisa menjaga hubungan di internal partainya ditunjukan dengan keluarnya beberapa elit partai SIRA ke kubu Irwandi Yusuf. Dampaknya terjadi perpecahaan di Partai SIRA. Belum lagi posisi keuangan Nazar tidak sebanyak pesaing gubernur lainnya. Dari segi sosialisasi Nazar masih lemah, bisa di lihat selama kepemimpinan sebagai Wakil Gubernur kurang menjelaskan kepada masyarakat Aceh apa-apa saja yang sudah dilakukan.

Mentelaah kekuatan dan kelemahan kendaraan politiknya dan tim suksesnya. Berdasarkan pantauan saya ketika kelilingan di wilayah pantai barat daya dukungan Nazar tidak mengakar. Metode pantuan menggunakan wawancara tokoh, masyarakat bawah, dan diskusi fokus group, dll. Hal ini menunjukan mesin partainya tidak bekerja. Saya menilai hanya bermain dalam tataran klaim. Tim suksesnya dan partainya hanya mem-blow up seakan-akan bekerja. Saya menyarankan masih ada waktu untuk melakukan perubahan dalam meraih dukungan di wilayah pantai barat.

Kendala utama yang akan di hadapi mesin partai dan tim suksesnya akan berhadapan dengan pihak-pihak tertentu. Munculnya kendala disebabkan ada stereotipe Nazar sudah berseberangan dengan kelompok atau partai tertentu. Ketika dilapangan akan di hadang dari kelompok dan partai tertentu. Ini harus di cari solusi mengatasinya. Menariknya lagi saya mengamati di tim sukses tidak memiliki desain strategi yang terkoordinasi serta solid.
Kekuatan lain Nazar mendapatkan dukungan dari Ketua Dewan Partai Demokrat. Jelas menguntungkan Nazar. Ada peran serius dari DPP Demokrat dalam mensukses Nazar sebagai orang nomor satu yang memerintah Aceh. Alasan dukungan lebih mengarah bagaimana ingin mengembalikan kejayaan partai nasional kembali, menjalankan kepentingan lebih mudah dari pada kandidat perorangan, lebih memudah menggunakan struktur tim sukses SBY untuk kemenangannya. Untuk satu ini harus di cerna lebih dalam siapa yang mensukses melambungnya suara Demokrat di Aceh tidak lepas peran dari Partai Aceh.

Irwandi Yusuf
Kita tidak akan pernah tau keinginan serta tujuan setiap manusia. Hal sama berlaku pada Irwandi Yusuf (incumbent), dimana dirinya berkeinginan menjabat kembali Gubernur Aceh untuk periode 2011-2016. Hampir keseluruhan masyarakat Aceh mengenal Irwandi Yusuf (IY). Ini menjadi investasi sekaligus keuntungan meraih dukungan dari masyarakat bawah. Aka tetapi bukan jaminan IY akan menang, karena pemilih bisa berubah dalam sikap dukungannya.

Sebelumnya memulai terlalu jauh, saya ingin mengatakan kurang konsistennya IY. Mengapa di awal dirinya hendak masuk ke partai nasional. Lalu berubah haluan memilih jalur perorangan untuk menjadi gubernur Aceh kembali. Saya menilai IY masih menganggap jalur perorangan akan menang lagi. Bagi pribadi saya menilai terpilihnya IY dahulu, dikarenakan momentum yang berpihak kepada dirinya, masyarakat Aceh ingin memberikan kesempatan agar tidak memicu konflik lagi, masyarakat Aceh disuguhi pilihan baru(alternatif) yaitu kandidat dari jalur perorangan, dan pada waktu itu belum memiliki partai lokal.

Kembali mengulas IY di tinjau perubahan sikap politiknya. Terlihat jelas dirinya masih nyaman dengan jalur perorangan. Menurut saya ada faktor pendorongnya, pertama; tidak mudah di setir oleh partai, khususnya kepentingan pendistribusian ekonomi maupun jabatan kepemerintahan yang diinginkan partai politik nasional, kedua; tidak menghabiskan uang terlalu banyak menjadi gubernur, mempercayai tim sukses perorangan lebih oprimal daripada mesin partai dan ketiga; kepentingan perwakilan atau kelompok.

Ternyata IY tidak belajar dari pengalaman, bahwa jalur perorangan memiliki dampak negatif. Akan terulang kembali dagelan politik antar eksekutif dan legislatif. Kita mengetahui di antara mereka tidak memiliki harmonisasi dan keselarasan dalam menjalankan kepemerintahan. Belum lagi kelemahan independent kurang memiliki kekuatan politik dalam merumuskan dan mempengaruhi kebijakan.

Selanjutnya menganalis kekuatan dan kelemahan dari Irwandi Yusuf. Hal serupa saya lakukan kepada IY. Jenis kekuatan dan kelemahan terbagi secara personal dan mesin politiknya. Dari sisi kekuatan personalnya IY lebih responsif daripada Nazar. Responsif, manakala kondisi mengharuskan seorang pemimpin mengambil tindakan atau kebijakan. Sosok tidak bergantung kepada birokrasi serta memiliki kepedulian dengan masyarakat bahwa ditunjuki dengan hadirnya program Jaminan Kesehatan Aceh. Di tambah lagi fasilitas negara seperti rumah dinas, karena dirinya tinggal di lampriet Banda Aceh. Kelemahannya secara personal, tempamental, kurang memiliki leadership (kepemimpinan) yang matang, cenderung tidak bisa menjaga hubungan dengan yang berseberangan, dan lebih terbiasa instan mempercayai orang tanpa mengecek take recordnya (asal usul) orang tersebut.

Kalau, kekuatan dari mesin politiknya menurut amatan saya. Irwandi Yusuf (IY) tim suksesnya lebih diuntungkan karena IY sudah memiliki elektabilitas yang tinggi. Ini bisa berdampak positif namun berdampak negatif. Maksudnya, karena popuralitas IY di manfaatkan tim sukses hanya meraih keuntungan dari IY tanpa bekerja di akar rumput. Di lain pihak memperoleh dukungan dari sebagian personal mantan kombatan dan elit eks GAM maupun Partai Rakyat Aceh. Belum lagi kecenderungan organisasi masyarakat sipil di Aceh mendukung dirinya. Terakhir kekuatan dari keuangan sangat besar, karena dirinya otomatis telah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum maju menjadi gubernur lagi. Terlepas IY yang buat atau organisasi masyarakat sipilnya mengambil keuntungan. Jelas ini sudah sangat membantu kekuatan politik IY mengantarkan sekali lagi menjadi Gubernur Aceh tuk kedua kalinya.

Kelemahan mendasar dari mesin politiknya IY pernah saya ungkapkan di media online Atjeh Post tim suksesnya Irwandi Yusuf terlalu gemuk di struktur serta banyak sekat-sekatnya. Biasanya tim struktur yang besar sulit terkoordinasi serta berdampak membengkaknya anggaran. Memunculkan tanda tanya di batin ini. Apa melatarbelakangi pribadi orang masuk mendukung Irwandi Yusuf menjadi gubernur tuk kedua kalinya. Kalau mau di inventaris bisa karena kesamaan ide dan tujuan, bisa karena duit yang berlimpah, atau bisa karena hubungan emosional yang dekat.

Posisi Kepemimpinan di  Era Irwandi dan Nazar
Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan keduanya. Saya ingin memberitau agar masyarakat Aceh mengetahui bagaimana kepemimpinan duet dari keduanya selama 5 (lima) tahun. Hasil dari pantauan saya terinput sebagai berikut, pertama; masalah reintegrasi belum kunjung tuntas dan meninggal masalah di kemudian hari. Kedua; pembentukan  Komite Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Aceh (KP2DT) tidak memberikan dampak kepada daerah tertinggal. Kalau kita fahami pembentukan KP2DT disinyalir kuat sarat dengan kepentingan politik, terkait dengan upaya meredam isu pemekaran Aceh (ALA-ABAS). Ketiga, pemberdayaan ekonomi kurang menghasilkan dampak yang nyata, produk kebijakan Kredit Peumakmu Nanggroe (KPN) terkesan project oriented semata.

Keempat; menjamurnya kasus korupsi selama kepemerintahan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Indikatornya terdapat 21 kasus korupsi hasil monitoring Gerak Aceh yang tak tersentuh hukum, antara lain kasus TVRI Banda Aceh, kasus korupsi stempel palsu Mobilitas Penduduk UPTD II Lhokseumawe  (2007), indikasi korupsi proyek pengadaan pengoperasian North Acheh Air (NAA) Aceh Utara tahun 2008 sebesar Rp 2,5 miliar, indikasi mark-up alat CT-SCAN tahun 2009 senilai Rp. 17,6 milliar dan MRI RSUZA tahun 2009 senilai Rp 35 miliar, penjualan aset Negara yang berupa besi tua 2009 sebesar Rp 1,5 miliar. Kalau kondisinya seperti itu, maka pemberantasan korupsi yang didengung-dengungkan Gubernur Irwandi Yusuf hanya menjadi sebatas jargon politik saja dan menunjukkan setengah hati.
Kasus indikasi korupsi dalam penjualan aset besi tua tahun 2009 dan kasus indikasi korupsi mark up CT Scan yang  dilaporkan oleh MaTA pada 31 Maret 2010 kepada KPK telah dilakukan gelar perkara. Hal ini berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Alfian, Koordinator MaTA kepada penulis pada 28 Agustus 2011.
Sedikit berbeda data dari Kejati Aceh, dimana jumlah kasus korupsi sebesar 141 kasus masih dalam upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi (PT) Aceh dan upaya kasasi serta Peninjauan Kembali (PK)  di Mahkamah Agung (MA). Rinciannya sebanyak 32 kasus kini sedang pada tahap banding, 97 kasus tingkat kasasi, 7 kasus dalam proses PK, dan 5 kasus dalam proses keringanan hukuman (grasi). Kasus-kasus tersebut, merupakan kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di Aceh dan ditangani oleh jajaran kejaksaan di Aceh, baik ditangani langsung Kejati Aceh maupun oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) di 23 kabupaten/kota di Aceh.
Terakhir keduanya tidak memiliki kepedulian serius dalam melakukan pembentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Terbukti sudah berjalan 5 tahun komisi yang menjadi kebutuhan perioritas korban konflik tidak menjadi agenda utama di kepemerintahan duet Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Sedangkan suara yang di kontribusikan korban konflik kepada keduanya pada saat pemilukada 2006 sangat signifikan. Seharusnya mereka mengerti balas jasa kepada korban konflik. Bukan melahan mendiamkan keinginan pembentukan KKR.[]

Oleh: Aryos Nivada

0Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news