Loading...
HeadlinePolitik & Keamanan

Tabir Kelam PKS

JUTAAN rakyat Indonesia tersentak dengan penangkapan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dasar penangkapannya terkait kasus suap daging sapi impor. Tafsiran-tafsiran berdasarkan logika politik atas penangkapan itu begitu deras mengalir dari mulai politikus,  tokoh ormas, pengamat politik hingga masyarakat luas. Tetapi yang paling mengejutkan adalah statement dari Presiden baru PKS, Anis Matta yang mengatakan bahwa penangkapan itu merupakan bentuk konspirasi untuk menjatuhkan PKS. Apakah benar demikian? Bagaimana jika terbukti benar? Lalu apa dampaknya bagi PKS? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong saya  untuk mengulas seputar partai berbasis keislaman ini dengan mengedepankan paradigma rational choice dalam menganalisis fenomena yang terjadi.

Merunut akar sejarahnya, pemilih partai berlambang padi dan bulan bintang ini memiliki kedekatan karakteristik dengan pemilih Masyumi yang modernis dan loyal. Embrio partai terbangun atas sebuah peluang yang menginginkan partai yang bersih dan berkarakter Islam. Walaupun ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tetap saja sebagian  umat Islam Indonesia berkeinginan akan lahirnya partai Islam baru. PKS muncul sebagai partai Islam yang sejalan dengan keinginan sebagian publik beragama Islam di Indonesia dengan keinginan “pembersihan” tersebut.

Konspirasi atau Pencitraan
Bilamana penangkapan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) diasumsikan sebagai  bagian dari konspirasi yang sudah terskenario, besar kemungkinan ada preseden sehingga muncul asumsi terkait. Skenario” menjatuhkan partai” jauh-jauh hari dan meledakkannya pada saat mendekati momentum pemilu 2014 adalah sesuatu yang dalam perspektif konspirasi, mungkin saja terjadi. Kita lihat saja  pemberitaan http://shnews.co/home (Rabu, 06/02/2013) bertajuk “Konspirasi, Sapi “Berjanggut”, dan Zionis” yang mengungkapkan bahwa “kaum zionis dan Amerika juga diseret-seret oleh elite PKS sebagai pihak-pihak yang, mereka duga, terlibat dalam konspirasi besar menjatuhkan PKS”. Asumsi konspirasi ini dipicu oleh pertemuan antara Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scot Marciel dengan pemimpin KPK untuk membahas strategi pemberantasan korupsi beberapa hari sebelum terjadi penangkapan LHI. Di luar berita itu, berkembang semacam rumor mengenai keterlibatan intelijen asing dan “pihak internal” untuk “menggarap” partai Islam “tertentu” yang dianggap radikal atau dinilai memiliki pengaruh besar dan diprediksi menjadi partai masa depan.

Namun, perkataan Anis Matta maupun temuan di http://shnews.co/home belum lama ini tak berlaku lagi manakala KPK mengungkapkan fakta di pengadilan. Hasilnya,  tidak ada skenario menjatuhkan PKS, kecuali bahwa partai tersebut runtuh kredibilitasnya oleh perilaku kadernya sendiri. Apalagi, Jubir KPK menyatakan bahwa penyidik sudah punya dua alat bukti yang cukup untuk menjerat mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Sebaliknya jika penangkapan itu tanpa cukup alat bukti, maka KPK bersalah dan justru terjebak dalam pusaran kepentingan partai atau penguasa tertentu.

Hal penting lainnya yang harus disikapi oleh PKS adalah membuktikan kebenaran akan adanya konspirasi menjatuhkan partai. Jika tidak maka masyarakat akan memberikan label negatif terhadap partai. Tetapi, jika berhasil dibuktikan maka PKS mungkin saja akan memperoleh simpati dan empati atas “penzaliman” yang dilakukan “pihak ketiga” yang diduga berkeinginan menghancurkan partai.

Dapat saja kita berpikir sebaliknya,  bahwa PKS sengaja menyatakan bahwa kasus tersebut adalah bagian dari konspirasi dengan tujuan menjaga loyalitas pemilih. Dalam hal ini, menarik untuk menyimak pendapat Prof. Achmad Mubarok, Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat yang menyatakan bahwa tidak ada konspirasi politik dan hukum untuk menghancurkan PKS. Pernyataan Presiden PKS Anis Matta hanya sebuah retorika untuk membangun semangat anak buah ( www.tribunnews.com 1 Februari 2013). Intinya PKS bukanlah partai pemenang pemilu dan berpeluang kecil dihancurkan. Namun, pemilih memiliki penilaian tersendiri atas ucapan presiden PKS Anis Matta.

Serangan Balik (Counter Attack)
Atas tindakan “penzaliman’ menurut versi pengurus PKS terkait penangkapan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, PKS bisa jadi tidak akan tinggal diam,  melainkan menyusun strategi untuk menyerang kembali pihak yang dianggap menjatuhkannya. Nampaknya, drama konstelasi politik menjelang pemilu 2014 akan diwarnai dengan saling menjatuhkan antar partai politik yang berhasrat menjadi penguasa. Namun perlu diingat oleh para petinggi partai, jika “serangan balik” hanya untuk menjaga citra, dan bukan untuk memperbaiki diri secara internal,  PKS akan dipandang sebagai partai pendendam bahkan memperburuk citranya di mata konstituen dan masyarakat Indonesia.

Dampak Terhadap PKS
Tidak dapat dipungkiri bahwa suara PKS dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Dimulai tahun 1999 dengan perolehan suara sebesar 1,51% atau 1.436.5651,36, lalu pada tahun 2004 sebesar 8,18% atau 8.325.0207,34, dan tahun 2009 dengan 10,18% atau 8.206.9557,88 (http://www.pks.or.id/). Namun, dengan rentetan kasus yang mendera PKS baru-baru ini seperti kasus korupsi, perilaku kader menonton video porno, hingga kasus suap daging sapi impor, akan berdampak pada penurunan suara partai di pemilu 2014. Suara dari kaum terdidik, kritikus, dan umat Islam yang taat beragama akan beralih dari PKS ke partai lainnya, baik ke PPP atau ke parta-partai yang berhaluan moderat dan nasionalis.

Selain penurunan suara, citra PKS akan tercoreng dengan minimnya tokoh yang mampu meraih simpati dan dukungan konstituen lebih banyak. Hal itu sejalan dengan temuan Lingkaran Survei Indonesia  (LSI) bahwa partai Islam tidak memiliki tokoh sentral sebagai magnet penarik pemilih.

Belum lagi masa transisi yang akan dihadapi presiden PKS yang baru. Jika Anis Matta tidak mampu membangun konsolidasi internal, maka dampaknya akan semakin sistemik.  Namun jika kepemimpinan baru mampu melakukan perubahan internal, besar kemungkinan PKS akan dapat bersaing pada pemilu 2014.  Friksi internal juga dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya konflik internal partai, sebab salah satu kubu tidak senang dengan terpilihnya Anis Matta.  Dengan proyeksi semacam ini besar kemungkinan PKS akan terjebak dalam pusaran konflik politik di tahun 2013 dan momen penting menyusun strategi menjelang Pemilu 2014 akan terabaikan.

Dampak lainnya, slogan “partai bersih” yang selama ini diusung PKS dalam market politiknya tidak akan mempengaruhi pemilih. Namun, jika slogan itu di-counter dengan tindakan konkrit berupa transparansi yang “dibingkai” oleh kampanye kepada publik, maka kemungkinan akan berdampak posistif dan pemilih akan tetap loyal, dengan catatan, PKS dapat menunjukkan bahwa kadernya tidak bersalah dalam beberapa kasus.

Begitulah tabir kelam yang saat ini tengah dialami PKS sebagai partai besar. Akankah di tengah keterpurukan itu nahkoda baru mampu membangkitkan semangat dan menunjukan soliditas yang kuat seraya menjadikan partainya kembali meraih simpati, empati, dan dukungan publik? Semuanya akan terjawab oleh pengurus dan kader PKS sendiri.

Penulis : Aryos Nivada, Peneliti LIPI

0Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news