Loading...
HeadlineSosial & Budaya

Pemimpin dan Penghormatan Ulama

Pemimpin dan Penghormatan Ulama

Aryos Nivada

Lebaran usai berlalu seiring berganti hari, masih melekat segar di ingatan kita semua sebuah tindakan seorang pemimpin Pemerintah Aceh yang kerap kali membuat sensasi. Kesensasian itu terjadi pada saat dua hari menjelang 1 Syawal, nama Tgk H Hasanul Bashry Pimpinan Dayah (Ponpes) Mudi Mesra Samalangan dibatalkan secara mendadak menjadi khatib Shalat Idul Fitri 1431 H, lalu di gantikan dengan Prof Dr Alyasa Abu Bakar MA. Tindakan penggantian menuai protes dari berbagai menuai protes dari berbagai organisasi santri maupun kumpulan para ulama. Nama Tgk h Hasanul Bashry telah tertuang melalui surat bernomorkan 003.2/49327 tanggal 8 Juli 2010 yang ditandatangani Sekda Aceh, Husni Bahri TOB.

Sikap itu menuai protes keras dari Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) dan Rabithah Muta’allimin Pidie (RAMPI). Protes kian melebar hingga ke kalangan aktivis, akademisi, kaum birokrasi sendiri dan masyarakat biasa. Mereka sangat menyayangkan tindakan gubernur Aceh sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi suri tauladan, bukan malahan membuat sebuah tindakan yang memicu ketidaksenangan masyarakat Aceh secara holistik.

Apalagi informasi terdengar di publik, pihak dayah di Aceh khususnya Mudi Mesra Samalanga merasa tersinggung sebab selain karena pimpinan mereka digantikan secara mendadak, pimpinan mereka yang merupakan ulama yang notabenenya dari kalangan Nahdhatul Ulama(NU) ini digantikan dengan seorang tokoh dari ormas yang berasal dari ormas Muhammadiyah(Alyasa’ Abubakar adalah ketua pengurus wilayah Muhammadiyah Aceh). Kita sama-sama tahu bahwa antara NU dan Muhammadiyah memiliki garis ideologi yang berbeda. Dan Aceh, tentunya didominasi oleh warga NU. Jadi, mestinya Irwandi Yusuf lebih peka terhadap persoalan-persoalan sosial seperti ini.

Mengantikan khatib mengarah pada kearogansian seorang pemimpin yang tidak bisa memisahkan antara urusan politik dan kepentingan umat. Selain itu pergantian khatib secara tiba – tiba menunjukan sikap seorang pemimpin yang tidak tegas menjalankan keputusan yang telah ditetap dan di sahkan atas nama Pemerintah Aceh, walaupun bukan Irwandi Yusuf yang menandatangani, sebab antara Gubernur dan Wakil Gubernur mestinya saling berbagi tugas.  Tetapi secara kepemerintahan jelas harus menghormati dan menjalankan secara tanggung jawab. Kalau kita jelih menilai kejadian itu hanya mengarah pada rivalitas pemilihan gubernur mendatang.

Sudah menjadi rahasia umum bila Muhammad Nazar bersemangat untuk maju sebagai kandidat gubernur mendatang. Tak tanggung-tanggung hampir bisa di nilai perseteruan keduanya baik di media massa maupun di keseharian menjalankan roda kepemerintahan. Menjelang Pemilukada membuat dinamika secara internal Irwandi dan Nazar kian memanas, hingga keurusan agama pun menjadi ranah perseteruan. Ujung-ujungnya konflik politik dibawah ke wilayah ritual beribadah menjadi kebiasaan para pemimpin kelak. Maka dibutuhkan perubahan kesadaran plus komitmen tinggi untuk berpolitik yang beretika.

Bila mentelaah dari kacamata politik tindakan Irwandi Yusuf, telah merugikan dirinya sendiri (personalnya). Logika yang di bangun, bilamana dirinya ingin maju kembali menjadi gubernur nantinya. Dukungan dari kaum ulama akan menurun, bisa jadi tidak ada sama sekali dukungan. Citra Irwandi di mata ulama telah tercoreng seiring dengan perilaku yang kurang menghormati ulama. Dukungan akan berbalik ke Muhammad Nazar. Tentunya momentum kesempatan itu akan di ambil guna memperbesar peluang menjadi orang nomor satu di Aceh. Hal penting lainnya tindakan Irwandi Yusuf dapat menimbulkan kemarahan masyarakat Aceh. Idealnya seorang pemimpin yang bijaksana, cermat, dan cerdas dapat memiminalisir dampak sosial di tengah – tengah kehidupan bermasyarakat atas perilaku negatifnya.

Ditinjau dari sudut historis sosiologis terjadinya kejadian tersebut merupakan lemahnya leadership dari Irwandi Yusuf dalam mengelola emosional maupun kewibawaannya. Harus diingat bagi kita semua tindak tanduk perilaku kita kelak menjadi pemimpin akan membawa dampak baik secara positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan manajemen keakhlakan berbasiskan personality. Dengan kata lain hitam putihnya sebuah negara (daerah) tergantung pada pemimpinnya. Hancur leburnya negara (daerah) tergantung pada kepempimpinan seorang pemimpin. Ditambah lagi eksistensi pemimpin tidak hanya memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, tapi juga agama dalam masyarakat. Bila seorang pemimpin memberikan contoh yang jelek, maka jangan disalahkan bila rakyatnya mencontoh hal buruk yang dilakukan pemimpinnnya.

Ini permasalahannya bukan pada tataran siapa khatibnya. Tetapi terletak pada etika menghormati ulama. Alyasa Abu Bakar juga seorang ulama berasal dari kampus. Sekali lagi sudut pandangnya bukan masalah ketidaklayakan. Karena ukuran kelayakan itu relative tergantung cara pandang orang menilai. Lensa pandang lainnya kurangnnya koordinasi dan komunikasi Sekda Aceh, Husni Bahri TOB kepada atasannya Irwandi Yusuf selaku gubernur. Apakah ini berhubungan dengan masa pensiun Sekda Aceh yang menghitung hari dan kian dekat, sehingga menggunakan kesempatan itu untuk bertindak diluar prosedur.

Menjadi ironi sebuah daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, ulama telah dimarginalisasikan atas sebuah tindakan pemimpin. Menghargai dan menghormati ulama harus menjadi keharusan, karena dari merekalah pencerahan agama serta bimbingan memahami agama dapat di peroleh. Apakah Gubernur Aceh ke depannya akan memiliki sifat menghormati dan menghargai ulama, makanya jangan salah memilih pemimpin (gubernur) mendatang, karena sangat menentukan nasib Aceh di masa mendatang. Intinya jangan terjatuh ke lubang yang sama, bila kita tidak ingin dikatakan orang yang buta politik. Ulama adalah pembimbing kuatnya akhlak manusia.

(Penulis : Pengamat Politik dan Keamanan serta Mahasiswa S2 Pascasarjana UGM Fakultas Politik)

 

 

 

0Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news