Loading...
HeadlinePemilu & Demokrasi

Peta Kekuatan dan Persaingan Pemilu Legislatif Aceh 2014

Oleh : Saddam Rassanjani

Setiap kerajaan mempunyai masa kejayaannya masing-masing, begitu pula yang terjadi pada partai politik. Pada Pemilu, kekuatan partai politik pada setiap tahun penyelenggarannya bisa berubah dan juga tetap, hal tersebut terjadi sesuai dengan isu politik yang sedang berkembang dan juga tergantung bagaimana sikap dari partai politik dalam membentuk makna politik di masyarakat.

Dimulai pada periode pertama yaitu orde lama, pada Pemilu perdanan ini lahir “the big four” yaitu; PNI, Masyumi, PNU dan PKI menjadi kekuatan terbesar pada masa itu. Kemudian ketika beranjak masuk ke periode selanjutnya orde baru, empat kekuatan tersebut perlahan-lahan mulai tenggelam oleh kedigdayaan Golkar sebagai partai penguasa yang sangat dominan, diikuti oleh PPP dan PDI sebagai “partai pelengkap”. Setelah 28 tahun (1971-1999) lamanya memimpin, pada awal reformasi dominasi Golkar akhirnya mulai digeser oleh kehadiran kekuatan baru seperti PDIP dan PKB, dan beberapa partai “kuda hitam” seperti PPP, PAN, dan PBB. Sementara itu keunggulan PDIP dan PKB juga tidak bertahan lama, terbukti pada dua edisi terakhir (Pemilu 2004 dan Pemilu 2009) Partai Demokrat yang lahir beberapa tahun sebelum pemilu diselenggarakan langsung memimpin pole position dengan dua kali berturut-turut berhasil mengirim kadernya untuk memimpin Indonesia.

Dari masa ke masa, Golkar merupakan partai politik yang paling lama menjaga eksistensinya, terbukti seperempat abad lebih mereka berada di tapuk kekuasaan, dan paska reformasi pun mereka tetap survive di jagat politik Indonesia. Kemudian, nasib berbeda dialami oleh dua partai yang tampil memukau pada Pemilu 1999, PKB yang pernah memenangkan pemilihan presiden kini hanya menjadi partai medioker, dan beruntung bagi PDIP yang masih sanggup meraih suara maksimal, dan konsisten berada di posisi runner-up di dua pemilihan terakhir. Sementara itu Partai Demokrat yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir pun mulai goyah di singgasananya, isu korupsi yang melilit anggota partai membuat elektabilitas partai di mata masyarakat menurun drastis.

Pada Pemilu 2014 yang tinggal hitungan hari lagi ini akan menyajikan pertarungan yang sangat sengit dan menarik untuk dikuti. Demokrat, PDIP, dan Golkar yang menguasai parlemen dalam satu dekade terakhir akan melawan partai yang sedang naik daun seperti PKS dan Gerindra, serta darah segar penyeru “gerakan perubahan” Nasdem. Dan menguntit dibelakangnya para underdog seperti PAN, PPP, PKB, dan Hanura, juga mereka yang sempat “dilupakan” oleh KPU, duo PBB dan PKPI.

Peta Kekuatan di Aceh

Kuat atau tidaknya suatu partai politik bisa diukur melalui peta kekuatan politik. Kekuatan politik terkini bisa dipetakan dengan menggunakan hasil perolehan suara Pemilu pada tahun sebelumnya, jika ingin melihat peta kekuatan politik partai politik pada Pemilu tahun 2014, maka alat yang akan digunakan adalah hasil Pemilu tahun 2009.

Untuk wilayah DPR-RI, kekuatan politik partai politik di Propinsi Aceh tentunya tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Nasional. Namun, tidak untuk ranah DPRA, apalagi dengan kehadiran partai lokal tentunya peta kekuatan yang terbentuk akan terlihat berbeda.

Hasil Pemilu Legislatif DPRA Provinsi Aceh pada tahun 2009 yang lalu, dari sebanyak 44 partai politik peserta pemilu yang ikut, hanya terdapat 12 partai politik yang berhasil mendapatkan kursi di parlemen, dengan rincian 10 partai bertaraf nasional, dan hanya 2 partai bertaraf lokal. Partai Aceh muncul sebagai penguasa tunggal dengan menggasak sebanyak 33 dari 69 alokasi kursi yang tersedia di DPRA. Kemudian sebanyak 36 kursi sisa dibagi kepada sebelas partai lainnya, yakni Partai Demokrat 10 kursi, Golkar 8 kursi, PAN 5 kursi, PKS 4 kursi, PPP 3 kursi, PDA 1 kursi, PKPI 1 kursi, PDIP 1 kursi, Patriot 1 kursi, PKB 1 kursi, dan PBB 1 kursi.

Sejarah yang ditorehkan oleh Partai Aceh pada Pemilu 2009 bukanlah hal yang mengejutkan, karena jauh hari sebelum pemungutan suara dilaksanakan, banyak pihak memprediksikan Partai Aceh akan mampu mendulang banyak suara. Dan keperkasaan Partai Aceh tidak hanya berhenti di Pemilu 2009. Pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada bulan April tahun 2012 kemarin, Partai Aceh kembali mampu memikat hati masyarakat Aceh dengan meraup lebih dari setengah suara, dan Partai Aceh yang mengusung pasangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (ZIKIR) berhasil keluar sebagai kampiun dengan mengalahkan semua pesaingnya termasuk disitu calon gubernur incumbent Irwandi Yusuf dengan hanya satu kali putaran saja. Jadi gambaran peta kekuatan politik yang memperlihatkan Partai Aceh sebagai partai penguasa di Aceh bukan isapan jempol semata.

Partai Demokrat dan Golkar tetap konsisten dengan berada di tiga besar, walaupun secara persentase perolehan suara terdapat gab yang sangat jauh dengan Partai Aceh. Dan sayangnya kekuatan nasional lainnya, yaitu PDIP menjadi partai pesakitan di Aceh dengan hanya 1 kursi saja.

Jika melihat peta kekuatan yang telah dipetakan, terdapat satu partai yang keluar dari persaingan pada Pemilu 2014, yaitu Partai Patriot. Sementara itu terdapat empat partai yang tidak masuk dalam perhitungan, yaitu muka baru seperti Nasdem dan PNA, dan muka lama yaitu Gerindra dan Hanura. Dua pendatang baru Nasdem dan PNA tidak ikut serta pada Pemilu 2009, karena Nasdem dan PNA sendiri baru terbentuk dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2011. Sementara dua pendatang lama Gerindra dan Hanura hanya bisa menjadi partai penghibur pada pemilu 2009 kemarin, keduanya sama sekali tidak mendapatkan kursi, padahal secara nasional mereka berhasil masuk dalam sepuluh besar partai peraih kursi.

Peta kekuatan politik sendiri bisa menjadi barometer bagi partai politik untuk mengukur sejauh mana kekuatan dan peluang kemenangan pada suatu pemilu. Jika mengukur peluang bedasarkan peta kekuatan politik, maka terdapat dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan yang pertama adalah apabila pemilih konsisten terhadap partai politik pilihannya, yaitu kembali memilih partai yang sama dengan yang pernah dipilih pada Pemilu tahun 2009, maka perolehan kursi pada Pemilu tahun 2014 nanti tidak akan jauh berbeda hasilnya dengan perolehan suara pada Pemilu 2009. Jika asumsi diatas diterapkan, maka kecil kemungkinan bagi keempatnya untuk bisa menghasilkan sebuah kursi DPRA pada Pemilu Legislatif Propinsi Aceh 2014.

Kemungkinan yang kedua adalah apabila pemilih tidak konsisten terhadap partai politik pilihannya, maka akan ada imigrasi suara (swing voter) dari satu partai ke partai lainnya yang membuat terjadinya pergeseran perolehan kursi, jadi akan ada partai politik yang bertambah kursi, dan akan ada juga yang kursinya akan berkurang. Dan dari fenomena inilah peluang bagi PNA, Nasdem, Gerindra, dan Hanura untuk membawa pulang beberapa kursi.

Terdapat beberapa kondisi yang berbeda antara Pemilu 2009 dengan Pemilu 2014, yaitu bertambahnya jumlah pemilih dan jumlah alokasi kursi. Terjadi kenaikan sebesar 9,83% pemilih dari tahun 2009 yang berjumlah 3.009.965 jiwa menjadi 3.337.545 jiwa pada tahun 2014 ini. Alokasi kursi untuk DPRA bertambah 12 unit, dari yang sebelumnya 69 kursi menjadi 81 kursi. Dua kondisi tersebut tentunya akan berpengaruh besar terhadap perubahan pada Peta Kekuatan politik nantinya.

Prediksi 2014

Melihat peta kekuatan politik yang berlandaskan Pemilu 2009 yang lalu, serta perkembangan isu-isu politik terkini. Partai Aceh akan terus melanjutkan trennya sebagai partai penguasa di Aceh, 20-30 kursi akan tetap menjadi milik Partai Aceh. Walaupun akan tetap merajai Pemilu 2014, PNA sepertinya akan menjadi batu sandungan yang besar bagi Partai Aceh, karena seperti yang diketahui, beberapa pentolan kader dan simpatisan yang memenangkan Partai Aceh pada 2009 yang lalu kini beralih mengusung panji-panji PNA, artinya disini akan ada beberapa kursi yang pernah dihasilkan Partai Aceh pada Pemilu 2009 yang akan diakuisi oleh PNA, belasan kursi akan mampu diraup oleh PNA.

Sementara itu, Demokrat dan Gokar akan menguntit dibelakang keduanya, 10 kursi merupakan raihan maksimal bagi dua partai nasional kuat tersebut. Partai-partai seperti PKS, PAN, dan PPP tetap akan setia menjadi pengisi papan tengah klasemen dengan perolehan 3-6 kursi, serta Gerindra dan Nasdem juga akan bergabung dengan ketiga partai Islam tersebut. Dan tidak ada jaminan bagi partai sekaliber PDIP untuk bisa masuk lima besar di Aceh, PDIP akan bernasib sama dengan Hanura, PDA, PKPI, PKB, PBB yang tetap akan mendapat jatah, barang 1 atau 2 kursi saja.

Artinya pada Pemilu 2014 semua partai akan mendapatkan kursi, tidak ada lagi suara yang mubazir, seperti yang terjadi pada pemilu 2009 yang lalu, dimana terdapat 32 partai yang suaranya terbuang percuma, karena mereka tidak bisa mengirimkan wakilnya ke DPRA.

Terlepas siapapun dan dari partai apapun yang akan mengisi slot kursi di DPRA nanti. Tentunya masyarakat hanya ingin agar Pemilu 2014 berjalan lancar dan aman, segala bentuk kekerasan yang mewarnai Aceh akhir-akhir ini semoga dapat berakhir. Kesiapan untuk menang tentunya juga harus dibarengi dengan kesiapan untuk siap kalah.

0Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news