Loading...
Opini

Belajar Dari The Avengers Series

Penikmat bioskop Indonesia tentu tidak asing dengan film buatan Amerika yang berjudul Avengers: Endgame, tontonan yang bergenrekan superhero ini resmi dirilis di Indonesia pada 24 April 2019 lalu. Walaupun di Aceh tidak terdapat bioskop, tentu masyarakat telah banyak tahu dan mengikuti perjalanan film yang masuk dalam jajaran Marvel Cinematic Universe (MCU) ini via internet. Avengers: Endgame (2019) sendiri merupakan film ke-22 MCU sekaligus menjadi sekuel akhir yang memuncaki petualangan kelompok pahlawan agung sejak debut pada Marvel’s The Avengers (2012), yang kemudian diikuti oleh Avengers: Age of Ultron (2015) dan Avengers: Infinity Wars (2018). Jika film-film karakter superhero biasanya hanya menampilkan satu sosok superhero saja, maka The Avengers berisikan lebih dari satu orang pahlawan super. Sebut saja Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Panther, dan Spiderman adalah contoh pemilik kekuatan super yang tergabung dalam barisan The Avengers.

Sepanjang perjalanannya, film produksi Marvel Studios tersebut selalu berhasil merajai box office di mancanegara. Animo tinggi penonton ternyata juga sejurus dengan kualitas tayangan yang disajikan, buktinya rating yang didapatkan dari situs penilai film ternama Rotten Tomatoes selalu menunjukan tren yang positif, yaitu rata-rata berada di kisaran 80% hingga 90%. Rating tinggi tersebut tidak didapatkan hanya karena faktor penyajian efek visual Computer Generated Imagery (CGI) yang sangat luar biasa keren dan canggih, akan tetapi juga dari moral stories yang diselipkan di dalam cerita. Tulisan ini tidak mengupas alur cerita secara mendalam dari apa yang disuguhkan oleh franchise superhero MCU tersebut, namun secara reflektif ingin melihat sekelumit pembelajaran yang bisa diambil ibrahnya.

Hoax & Adu Domba

Pada serial Captain America: Civil War (2016), The Avengers dihadapkan pada konflik internal yang membuat para anggotanya tepecah kedalam dua fraksi, yaitu kubu Iron Man dan kubu Captain America. Kedua kelompok ini saling bertikai dalam mempertahankan apa yang diyakini masing-masing. Usut punya usut, ternyata seorang mantan perwira intelijen yang bernama Kolonel Helmut Zemo adalah dalang dibalik pertikaian tersebut, Zemo memiliki dendam pribadi terhadap Avengers karena menilai merekalah yang menyebabkan anak dan istrinya tewas dalam sebuah kerusuhan di negaranya satu tahun lalu pada episode Avengers: Age of Ultron (2015).

Figur Kolonel Helmut Zemo mengingatkan kita pada sosok Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) yang berhasil memecah belah Aceh pada masa perang melawan Belanda. Saat itu ratusan kompi tentara Belanda tidak mampu mematahkan semangat juang bangsa Aceh yang berpegang teguh pada jihad fi sabilillah. Namun kehadiran satu orang penasehat kolonial ternyata mampu memanipulasi semangat persatuan dan kesatuan masyarakat Aceh sehingga dengan mudahnya mampu ditaklukan oleh Belanda.

Dewasa ini, wujud Helmut Zemo ataupun Snouck Hurgronje ternyata hadir dalam bentuk yang lebih abstrak, yaitu hoax. Artinya saat ini untuk menjadi seorang manipulator yang ulung tidak harus berlatar belakang professor ataupun intelejen, cukup satu klik saja maka provokasi bisa terlaksana. Tidak usah jauh-jauh, kisah cebong versus kampret yang mewarnai pagelaran pesta demokrasi tahun ini adalah hanyalah segelintir kisah yang menunjukan bahwasanya bangsa Indonesia sangat mudah untuk diadu domba. Hoax bisa membuat seorang sahabat bermusuhan dengan karibnya, kemudian tetangga bertengkar terhadap jirannya. Dan parahnya lagi, gara-gara hoax masyarakat dengan sadisnya mencaci-maki pemimpinnya. Hoax mengintai kita semuanya, ia tak kenal usia, suku, agama, profesi, dan atribut lainnya. Maka, jangan lagi berikan ruang bagi hoax untuk merusak persatuan bangsa yang telah diperjuangkan oleh leluhur kita. Bersama seiya-sekata, hoax adalah musuh kita bersama.

Perang Ideologi

Perpecahan yang terjadi di kalangan Avengers pada Captain America: Civil War (2016) membuat mereka kewalahan dalam menghadapi salah satu penjahat terkuat di alam semesta yang bernama Thanos di seri lanjutan yang berjudul Avengers: Infinity War (2018). Akibat inkompatibilitas tersebut, para Avengers dengan mudah dikalahkan oleh Thanos. Bagi penulis, yang menakutkan dari Thanos tidak hanya kekuatannya, namun juga pola pikir yang dianutnya, karena makhluk titan yang satu ini membawa sebuah ideologi yang sangat ekstrim nan radikal.

Menurut Thanos, gejala sosial yang melanda masyarakat seperti perang, penjarahan, kemiskinan, kelaparan, dan lain sebagainya dilatar belakangi oleh minimnya ketersedian sumber daya alam. Seiring waktu kebutuhan mahluk hidup semakin meningkat karena bertambahnya populasi baru, sementara sumber daya alam semakin menyusut dan terbatas. Artinya, ada ketidakseimbangan yang terjadi antara mahluk hidup dengan sumber daya alam yang ada. Akibatnya, perlu diciptakannya sebuah keseimbangan baru di alam semesta, dan caranya adalah dengan memusnahkan separuh dari populasi mahluk hidup agar sumber daya alam yang tersedia di jagad raya ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahluk hidup yang tersisa.

Paradigma yang dibangun oleh Thanos memiliki kemiripan dengan sejumlah ideologi akan eksistensi manusia yang berkembang di dunia Barat sebagai pusatnya pergolakan pemikiran. Gerakan imperialism yang dijalankan oleh orang Barat sekitar lima abad silam di sejumlah wilayah dunia merupakan contoh awal sejumlah kasus perebutan wilayah dan sumber daya alam yang memakan korban jiwa. American Genocide (1846-1873) yang saat itu suku Indian sebagai kaum pribumi dipaksa menyingkir dari wilayah teritorialnya, pemukim pertama benua Amerika ini menyerah dalam perlawanan, dan banyak dari mereka dibunuh sehingga populasi nya saat ini menjadi minoritas. Sementara itu, perjuangan kaum Aborigin Australia atas tanah kelahirannya jauh lebih panjang, kedatangan kapal James Cook ditahun 1770 menjadi awal klaim kepemilikan Inggris atas tanah Australia. Lebih dari 200 tahun lamanya ras Aborigin mengalami serangkain penindasan di rumah sendiri. Dan menurut sensus setempat tahun 2016, populasi Aborigin saat semakin mengecil dengan hanya tinggal 3,1% saja.

Tidak hanya disitu, peristiwa Christchurch (15/03/19) juga menjadi salah satu bukti kelam yang masih segar diingatan bagaimana seorang penganut ideologi white supremacist (supremasi kulit putih) melakukan pembantaian keji terhadap penduduk Muslim setempat ketika sedang melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Supremasi kulit putih sendiri merupakan ajaran yang menganggap bahwa ras putih lebih superior atas ras lainnya, aliran ini banyak dihubungkan dengan rasisme anti-hitam ataupun anti-semitisme. Dalam filosofinya, supremasi kulit putih memiliki kepercayaan bahwa mereka harus berkuasa atas golongan non-putih. Parahnya lagi, doktrin yang satu ini berpendapat bahwa mereka boleh saja membinasakan orang-orang diluar haluan mereka, dengan begitu kaum superior ini tidak perlu lagi berbagi wilayah dan sumber daya alam yang ada di dalamnya dengan selain kaumnya.

Damai Paska Pilpres

Avengers: Endgame (2019) merupakan kesempatan kedua bagi para pahlawan super untuk membalikkan keadaan dan menumbangkan Thanos. Salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan telak pada babak pertama diyakini karena ada friksi diantara penjaga kedamaian bumi tersebut. Kini para Avengers pun telah banyak belajar pada Civil War (2016) dan Infinity War (2018) bahwa “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”, sebuah filosofi semangat gotong royong yang telah lama menjadi identitas bangsa Indonesia. Namun hal sebaliknya tengah dialami oleh bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis persatuan dan kesatuan.

Seharusnya perbedaan yang ada janganlah dijadikan sebagai jurang pemisah yang membuat hubungan persaudaraan merenggang dan saling memusuhi. Perbedaan adalah warna dan bumbu dalam kehidupan, orang makan mie Aceh saja beda-beda, ada yang suka goreng basah dan tak sedikit yang lebih suka goreng kering. Maka sudah seharusnya menganggap bahwa segala bentuk perbedaan yang ada itu hanyalah sebagai sebuah wujud manifestasi bahwasanya setiap dalam diri manusia terdapat kebebasan dalam berkehendak, dan hal tersebut merupakan sebuah anugerah dari Ilahi.

Apa yang dapat dipelajari dari The Avengers adalah model patriotisme sejati yang siap mengesampingkan segala bentuk perbedaan demi suatu tujuan yang lebih mulia. Helmut Zemo (hoax & adu domba) dan Thanos (ideologi radikal) adalah hanya beberapa contoh ancaman yang kapan saja hadir untuk menghancurkan kedaulatan sebuah negara. Oleh karena itu, bangsa ini harus bersatu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, setiap individu harus saling merangkul dan kembali pada semangat persatuan. The Avengers juga sebuah gambaran koalisi tanpa syarat untuk tujuan pemenuhan keamanan bagi penghuni alam semesta. Dalam kondisi sosial Indonesia saat ini, para elit bangsa harus sadar dan bersatu satu tanpa terkotak-kotak oleh kepentingan apapun demi pemenuhan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengingat di tahun 2019 ini rakyat Indonesia akan menyambut pemimpin baru, maka siapapun yang terpilih harus didukung. Jadilah oposisi yang memiliki nilai netralitas yang tinggi, beri kritikan yang membangun jika salah, dan jangan lupa berikan apresiasi jika itu memang sebuah prestasi. Jika seluruh masyarakat dan elit bangsa dapat bersatu dalam perbedaan, maka tidak akan ada musuh yang tidak bisa dikalahkan. Akhirnya, sinergisitas dan kolektifitas bersama ialah kunci dalam membangun sebuah peradaban yang lebih baik.

Penulis: Saddam Rassanjani, S.IP, M.Sc
Imail: sany.arrahman@gmail.com

0Shares

Hit Counter provided by technology news