Loading...
Pemilu & DemokrasiPolitik & KeamananSosial & Budaya

Peran Perempuan Dinilai Penting dalam Politik

BANDA ACEH – Peran perempuan dalam dunia politik dan pembangunan di Aceh dinilai penting. Dalam beberapa hal, perempuan dinilai memiliki kelebihan yang tidak dimiliki laki-laki, sehingga perlu ada perwakilan perempuan di dunia politik. Hal itu disampaikan sejumlah politisi perempuan di Aceh dalam diskusi bertema “Peran Perempuan dalam Politik dan Pembangunan Aceh” di Pancake Kopi, Banda Aceh, Minggu (19/1). Diskusi tersebut dilaksanakan Kaukus Pemuda Aceh Peduli Parlemen.

Diskusi yang menghadirkan enam pembicara politisi perempuan, yakni Eva Muzalifah (PKS), Lela Kusuma (Partai Demokrat), Furina Fuad (Partai Hanura), Yani Wage Sulistyawati (Partai Gerindra), Cut Fatma Dahlia (Partai Aceh), Illiza Sa’aduddim Djamal (PPP, dan Adiwarni Husin (NasDem).

Secara umum, keenam pembicara memaparkan bahwa perempuan berperan penting dalam dunia politik dan pembangunan di Aceh. Meski tidak dipungkiri bahwa perempuan tentunya berbeda dengan laki-laki. Karenanya, laki-laki maupun perempuan harus sama-sama mengambil peran dalam menjalankan tugasnya untuk mewujudkan pembangunan Aceh menjadi lebih baik.

Dalam pandangan Eva Muzalifah, selama ini kesejahteraan masyarakat Aceh belum benar-benar terwujud, terutaam kesejahteraan perempuan. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat belum sepenuhnya menyentuh kepentingan masyarakat khususnya kaum perempuan. Karenanya keberadaan perempuan di dunia politik tentunya dapat mewakili serta lebih memerhatikan kepentingan kaum perempuan,” katanya.

Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza juga mendukung keterlibatan perempuan sebagai politisi. Ia menilai wanita lebih detil dan halus dalam bekerja. Sehingga kebutuhan masyarakat sekecil apapun akan dapat disuarakan oleh perempuan. “Kalau laki-laki itu lebih kuat, maka perempauan itu lebih detil dalam bekerja. Perpaduan keduanya sangat penting sehingga dapat saling melengkapi,” ujarnya.

Sesuai dengan syariat Islam yang ditegakkan di Aceh, Adiwarni mengatakan, Islam pun tak melarang perempuan untuk ikut berpendapat dan memberikan aspirasinya. “Karenanya keberadaan perempuan di dunia politik bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Islam, sejauh ia bisa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang perempuan dan seorang inu dengan baik,” demikian Adiwarni.(serambi indonesia)

0Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news